Posted by: Edukasi Saturday, August 12, 2017

Tony  memandang secangkir cappuccino hangat di hadapannya dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang pada sebuah kenangan satu tahun yang lalu saat dia masih duduk di bangku perkuliahan semester 2. Ada seorang gadis yang terluka karena dirinya.
Ya, Dhea nama gadis itu. Sederhana, baik hati dan perhatian. Namun sayang waktu itu Tony memandang sebelah dengan kelebihan Dhea. Tony lebih memilih seorang cewek dengan gaya glamour, remaja dengan gaya masa kini dan pergaulan luas. Ia populer dengan predikatnyasebagai model. Widya nama gadis itu.
Keduanya dekat dengan Tony waktu itu. Dhea dekat dengannya di kegiatan mading fakultas, sedang Widya dekat dengannya saat kegiatan latihan extrakulikuler bola volly di kampus. Keduanya dekat dalam waktu yang hampir bersamaan. Tony merasa nyaman dengan Dhea, sedangkan dengan Widya ia bangga bisa jalan dengan seorang model.
Setelah dirasa cukup lama dengan keduanya, Tony memutuskan untuk memilih satu diantara kedua gadis tersebut. Karena Tony silau dengan ketenaran Widya, ia memilih Widya sebagai pacarnya. Dhea sempat kecewa dan patah hati sekali dengan harapan – harapan yang sempat diberikan oleh Tony. Tapi ia berusaha bangkit dan menerima kenyataan yang sudah menjadi jalan hidupnya.
Saat ini, Tony memintanya bertemu karena keduanya sedang liburan kuliah akhir semester.
“Hai, Tony. Udah lama ya nunggunya? Maaf tadi nganter Mama belanja dulu jadi datangnya agak terlambat..” ucap Dhea dengan senyuman manisnya yang membuat Tony merasa sejuk. Ya sebenarnya dengan Dhea lah ia merasa nyaman. Dengan kesederhanaan dan kerendahhatian gadis manis itu.
“Ah, enggak juga, Dhe” jawab Tony. “Lagian cafe ini suasananya sangat nyaman, sampai enggak terasa menunggu berapapun lamanya, oh ya gimana kabarmu Dhe?”
“Mmm.. baik.. sehat.. gimana denganmu sendiri?” Dhea balik bertanya.
“Yah begitulah lah, masih sama kayak dulu, oh ya gimana dengan kuliahmu, anak bahasa inggris pasti banyak hafalannya kan ya?”
“Hehehe.. iya begitulah. Tapi kamu kan tau aku paling suka membaca dan menghafal, ya jadi enggak banyak kesulitan juga sih..”
“Oooh.. syukurlah kalau begitu” Tony menatap gadis itu dengan perasaan campur aduk. Kerinduannya, penyesalannya, dan kekagumannya. Ia kembali bergumul dengan kebodohannya waktu itu. Dan saat ini, sebenarnya ia sedang mengambil asa, mungkinkah harapan masih tersisa. Karena Widya tidak seperti yang ia bayangkan selama ini. Widya seorang yang otoriter, suka memaksa keinginannya dan egois. Ia berharap pada Dhea yang memberinya keteduhan hati.
“Oh iya, bagaimana dengan kabar Widya? Dia baik – baik saja kan?” tanya Dhea sambil menulis pesanan minuman di meja.
“Aku sudah putus dengan Widya” jawab Tony dengan menunduk.
“Oh, maaf saya tidak tahu,” Dhea menyesal menanyakannya. Ia pikir keduanya masih baik – baik saja.
“Kamu sendiri sekarang sudah punya pacar, Dhe?” tanya Tony memberanikan diri bertanya.
“Sudah, Ton. Pacarku sekarang kakak tingkat tapi masih satu jurusan denganku,” jawab Dhea tanpa beban.
Ya, ia sudah ikhlas dan melupakan semuanya. Tinggal Tony dengan penyesalannya. Hilang sudah harapannya untuk bersama Dhea kembali. Asa itu perlahan hilang, ditelan senja yang mulai terbenam di ufuk barat. J

Oleh: Purnomo Aji Mahmudi

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2015-2016 Pers Mahasiswa Edukasi - Modified by Tomas Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -