Posted by: Edukasi Wednesday, August 09, 2017

Djamaluddin atau yang biasa di kenal Adinegoro, adalah salah satu tokoh perintis perss yang mendapatkan banyak penghargaan. Laki-laki yang lahir di Talawi, Sumatera Barat pada tanggal  14 Agustus 1904 adalah adik sastrawan Muhammad Yamin. Mereka saudara satu bapak, tetapi lain ibu. Ayah Adinegoro bernama Usman gelar Baginda Chatib dan ibunya bernama Sadarijah, sedangkan nama ibu Muhammad Yamin adalah Rohimah. Beliau adalah salah satu orang Indonesia pertama yang secara formal mempelajari ilmu publisistik di Jerman. Di Eropa ia juga mempelajari geografi, geopolitik, dan kartografi. Pada usia 15 tahun Djamaluddin masuk Europeesche Lagere School (ELS), sekolah rendah yang dikhususkan untuk anak-anak Belanda. Lalu setelah beliau beranjak remaja, sang ayah menitipkan beliap kepada saudaranya yang tertua bernama yakni Muhammad Yaman Gelar Raja Endah, beliau juga adalah guru di Hollandsch Inlandsche School (HIS) di Palembang. Setelah menyelesaikan pendidikan di HIS Palembang, Adinegoro masuk ke School Tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Batavia, karena ayahnya mengharapkan ia menjadi dokter.
Namun, karena kegemarannya dalam bidang menulis, akhirnya beliau mencoba masuk di bidang jurnalis. Tulisannya untuk pertama kali dimuat di Tjahaja Hindia, sebuah majalah yang diterbitkan oleh Landjumin Datuk Tumenggung. Lalu setelah itu, tulisannya pun banyak di muat di surat kabar, diantaranya majalah Pandji Poestaka, dan karangannya kemudian dibukukan dengan judul Melawat ke Barat oleh Balai Poestaka. Ia juga secara teratur mengirimkan karangan ke Pewarta Deli (Medan) dan Bintang Timoer (Jakarta).
Setelah beliau kembali ke Indonesia, Adinegoro memimpin majalah Panji Pustaka pada tahun 1931. Akan tetapi, ia tidak bertahan lama di sana, hanya enam bulan. Sesudah itu, ia memimpin surat kabar Pewarta Deli di Medan (19321942). Sesudah proklamasi 1945, beliau diangkat oleh Presiden Soekarno menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Sumatera. Ia juga pernah memimpin Sumatra Shimbun selama dua tahun. Kemudian, bersama Prof. Dr. Supomo, ia memimpin majalah Mimbar Indonesia (1948—1950). Selanjutnya, ia memimpin Yayasan Pers Biro Indonesia (1951). Pada masa revolusi, Adinegoro diangkat menjadi Komisaris Besar RI di Bukittinggi.
 Adinegoro juga ikut mendirikan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tahun 1946. Setelah pindah ke Jakarta, yang sudah sepenuhnya dikuasai Belanda, bersama Prof. Dr. Soepomo, Pangeran Mohammad Noor, Soekardjo Wirjopranoto, dan Mr. Jusuf Wibisono, Adinegoro ikut mendirikan majalah perjuangan Mimbar Indonesia. Beliau juga ikut mendirikan Perguruan Tinggi Jurnalistik di Jakarta dan Fakultas Publisistik dan Jurnalistik Universitas Padjadjaran. Ia juga pernah menjadi Tjuo Sangi In (semacam Dewan Rakyat) yang dibentuk Jepang (1942-1945), anggota Dewan Perancang Nasional, anggota MPRS, Ketua Dewan Komisaris Penerbit Gunung Agung, dan Presiden Komisaris LKBN Antara.  Dan hingga akhir hayat beliau, Adinegoro tetap mengabdi di kantir berita tersebut sebagai seorang wartawan.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © 2015-2016 Pers Mahasiswa Edukasi - Modified by Tomas Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -